Kisah Inspirasional

Rabu, 28 April 2010

Biarkan Mengalir Seperti Air


Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, "Guru, saya sudah bosan

hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau.

Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati."

Sang Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit."

"Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu

sebabnya saya ingin mati."

Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, "Kamu sakit.

Dan penyakitmu itu bernama, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap

kehidupan."

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa

disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.

Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita

menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut

mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit.

Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.

Usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil

itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi

dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin

mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

"Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin

sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." kata sang Guru.

"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin

hidup." Pria itu menolak tawaran sang Guru.

"Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?"

"Ya, memang saya sudah bosan hidup."

"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini.

Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisasnya kau

minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan

tenang."

Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia

datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang

satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun.

Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan

senang hati.

Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang

disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak

pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1

malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam

masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran

Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir.

Ini adlaah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil

makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia

mencium bibir istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu." Sekali

lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan

kenangan manis!

Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar.

Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan

pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih

tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir

kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah

pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa

aneh sekali, "Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku

salah. Maafkan aku, sayang."

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya

pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya?" Dan sikap mereka pun langsung

berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir,

ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu di

sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai

terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia

mulai menikmatinya.

Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di

beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya,

"Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan

kamu." Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua.

Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami."

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi

sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana

dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru

langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya

air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau

hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau

akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu,

kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai

kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup.

Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju

ketenangan."

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke

rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih

mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya,

ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!





Tidak ada komentar:

Posting Komentar