Melalui teladannya yang baik, ibu menanamkan hasrat membantu sesama dalam diriku. Dia mengajariku agar memperhatikan hal-hal yang diabaikan orang lain. Dia begitu penuh belas kasihan dan murah hati.
Pada blog ini saya menyediakan kumpulan kisah-kisah hudup, serta artikel-artikel lain dari berbagai sumber serta karangan pribadi yang membantu memotivasi anda untuk menjalani hidup dengan lebih baik
Melalui teladannya yang baik, ibu menanamkan hasrat membantu sesama dalam diriku. Dia mengajariku agar memperhatikan hal-hal yang diabaikan orang lain. Dia begitu penuh belas kasihan dan murah hati.

Asih yang tercinta,
Aku akan mengunjungi tetanggamu hari Sabtu ini di sore hari dan aku bermaksud singgah kerumahmu.
Dengan penuh cinta :
Tuhan-mu
Seorang wanita di salah satu desa terkejut ketika ia melihat seorang asing berpakaian rapi di depan pintu rumahnya, minta sesuatu untuk dimakan. Wanita itu berkata, “Maaf, sekarang saya tidak mempunyai sesuatu pun di rumah.”
“Tidak apa-apa,” kata orang asing itu bersahabat. “Saya mempunyai sebutir batu-sup di tas saya; kalau saya kau ijinkan untuk memasukkannya ke dalam panci dengan air mendidih, saya akan membuat sup yang paling lezat di seluruh dunia. Saya minta panci yang besar.”
Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya…..Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya. Lalu bagaimana dengan Papa? Mungkin karena Mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari,tapi tahukah kamu, jika ternyata Papa-lah yang mengingatkan Mama untuk menelponmu?
Pada suatu ketika, ada sebuah pulau yang dihuni oleh semua sifat manusia. Ini berlangsung lama sebelum mereka menghuni tubuh manusia, dan lama sekali sebelum kita mengotak-ngotakkannya kedalam istilah baik atau buruk. Pokoknya mereka ada, dengan ciri-cirinya sendiri. Bahkan sifat-sifat tersebut berdiri sendiri sebagaimana manusia. Mungkin itu sebabnya pada akhirnya mereka bersatu. Dipulau tersebut hiduplah Optimisme, Pesimisme, Pengetahuan, Kemakmuran, Kesombongan, dan Kasih Sayang.
Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil.
Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan
punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik,
tiga tahun lebih muda dariku.
Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis
di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen
dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku
dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di
tangannya.
Seorang tukang kayu tua sudah siap untuk pensiun. Dia memberitahukan rencananya pada kontraktor majikannya. Dia telah bertekad mengundurkan diri dari pekerjaannya sebagai pembangun rumah agar dapat menikmati hari tuanya dengan lebih menyenangkan, bersama isteri dan keluarga besarnya. Memang dia sepenuhnya sadar bahwa dia akan kehilangan penghasilannya, tetapi dia sudah lelah, dia perlu istirahat.
Sang kontraktor sangat menyayangkan kepergian karyawannya yang baik ini, tetapi
Jika anda sedang benar, jangan terlalu berani dan
bila anda sedang takut, jangan terlalu takut.
Karena keseimbangan sikap adalah penentu
ketepatan perjalanan kesuksesan anda
Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu,ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara, lalu menemukan tempat untuk duduk. Sambil duduk wanita itu membaca buku yang baru saja dibelinya.
Dalam keasyikannya, ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka.
Di sebuah peternakan yang besar, seekor keledai kecil sering kali diikat menjadi satu dengan seekor kuda liar. Kemudian keduanya dilepas di padang rumput yang luas. Kuda liar itu terus meronta dan mengamuk, kuda liar itu menarik dan menyeret keledai kecil yang diikatkan padanya itu, melemparkannya seperti sebuah karung jerami.
Ada pasangan suami isteri yang sudah hidup beberapa lama tetapi belum mepunyai keturunan. Sejak 10 tahun yang lalu, sang istri terlibat aktif dalam kegiatan untuk menentang ABORSI,karena menurut pandangannya, aborsi berarti membunuh seorang bayi.
Setelah bertahun-tahun berumah-tangga, akhirnya sang istri hamil, sehingga pasangan tersebut sangat bahagia. Mereka menyebarkan kabar baik ini kepada famili, teman2 dan sahabat2, dan lingkungan sekitarnya. Semua orang ikut bersukacita dengan mereka. Dokter menemukan bayi kembar dalam perutnya, seorang bayi laki2 dan perempuan. Tetapi setelah beberapa bulan, sesuatu yang buruk terjadi.
“Kenapa ibu menangis?” Tanya seorang anak kepada ibunya.
“Karena aku seorang wanita,” jawabnya.
“Aku tidak mengerti,” katanya. Ibunya memeluknya dan berkata,”Kamu tidak akan pernah tahu, tapi itu tidak jadi masalah.”
Tak lama kemudian anak itu bertanya pada ayahnya, “Mengapa ibu menangis tanpa alasan yang jelas?”
“Semua wanita menangis tanpa alasan,” hanya jawaban seperti itulah yang dapat diberikannya.
Anak kecil itu tumbuh menjadi seorang pria, masih tetap bertanya-tanya mengapa wanita menangis. Akhirnya dia bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, kenapa wanita mudah menangis?”
Tuhan menjawab…..
Sejak belia, kepada seorang anak sebaiknya sudah diperkenalkan, ditanamkan dan dibiasakan berlaku jujur dan adil, kalau sejak dini ini dilakukan oleh semua pihak, dapat dipastikan bahwa negara kita saat ini sudah sejahtera. Artikel berikut ini sangat baik menggambarkan bagaimana cara menanamkan kejujuran dan perilaku adil pada anak-anak kita, atau bahkan pada diri kita sendiri.
Bertahun-tahun yang lampau, ketika aku bekerja sebagai sukarelawan di sebuah rumah sakit, aku mengenal seorang gadis kecil bernama Lisa yang mengidap penyakit langka yang sangat parah. Tampaknya satu-satunya peluangnya untuk sembuh adalah dengan melakukan transfusi darah dari adik laki-lakinya yang baru berusia
“Ketika transfusi darah berlangsung, dia berbaring di ranjang di samping kakak perempuannya dan tersenyum, demikian juga kami, menyaksikan rona merah kembali muncul di pipi Lisa. Kemudian wajah anak laki-laki itu memucat dan senyumnya memudar. Dia memandang dokter di sampingnya dan bertanya lirih dengan suara gemetar, ‘Apa saya akan segera mati?’
“Karena masih kecil, anak laki-laki itu telah salah memahami penjelasan dokter tadi, dia pikir dia harus memberikan semua darahnya kepada kakak perempuannya.”
Bagaimana dengan Anda, adakah kesediaan Anda untuk sedikit berkurban bagi “saudara-saudara” Anda? Untuk memberikan 200 sampai 300 cc darah Anda? Ketahuilah bahwa dengan demikian, Anda telah menolong jiwa seseorang? Apakah Anda mempunyai cukup keberanian? Kalau tidak bacalah ulang kisah di atas untuk membangkitkan inspirasi Anda, teladanilah anak kali-laki, yang punya keberanian untuk mengurbankan nyawanya bagi kakaknya